Selama perjalanan dari Kebumen dan singgah
di Muntilan , kemudian lanjut sampai di Semarang, Mbah Dalhar memilih
tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayyid
Abdurrahman
TAHUKAH KAMU ? - Pada suatu waktu Mbah Kyai Dalhar diminta oleh gurunya, Syeikh
As Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani untuk menemani putera
laki laki tertuanya Sayid Abdurrahman Al-Jilani Al-Hasani untuk menuntut
ilmu di Mekkah. Syeikh As Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani
Al-Hasani berkeinginan menyerahkan pendidikan puteranya kepada shahib
beliau yang menjadi mufti syafiiyyah Syeikh As Sayid Muhammad Babashol
Al-Hasani.
Keduanya berangkat ke Makkah dengan menggunakan kapal laut
melalui pelabuhan Tanjung Mas, Semarang. Ada sebuah kisah menarik
tentang perjalanan keduanya. Selama perjalanan dari Kebumen dan singgah
di Muntilan , kemudian lanjut sampai di Semarang, Mbah Dalhar memilih
tetap berjalan kaki sambil menuntun kuda yang dikendarai oleh Sayid
Abdurrahman. Hal ini dikarenakan sikap takdzimnya kepada sang guru.
Padahal Sayid Abdurrahman telah mempersilahkan mbah Kyai Dalhar agar
naik kuda bersama.
Di Makkah (waktu itu masih bernama Hejaz), mbah Kyai Dalhar
dan Sayid Abdurrahman tinggal di rubath (asrama tempat para santri
tinggal) Syeikh As Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani yaitu didaerah
Misfalah. Sayid Abdurrahman dalam rihlah ini hanya sempat belajar pada
Syeikh As Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani selama 3 bulan, karena
beliau diminta oleh gurunya dan para ulama Hejaz untuk memimpin kaum
muslimin mempertahankan Makkah dan Madinah dari serangan sekutu.
Sementara itu mbah Kyai Dalhar diuntungkan dengan dapat belajar ditanah
suci tersebut hingga mencapai waktu 25 tahun.Syeikh As_Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani inilah yang
kemudian memberi nama Dalhar pada mbah Kyai Dalhar. Hingga ahirnya
beliau memakai nama Nahrowi Dalhar. Dimana nama Nahrowi adalah nama asli
beliau. Dan Dalhar adalah nama yang diberikan untuk beliau oleh Syeikh
As Sayid Muhammad Babashol Al-Hasani. Rupanya atas kehendak Allah Swt,
mbah Kyai Nahrowi Dalhar dibelakang waktu lebih masyhur namanya dengan
nama pemberian sang guru yaitu Mbah Kyai Dalhar.
Allahu Akbar.
TAHUKAH KAMU ? - Ketika berada di Hejaz inilah mbah Kyai Dalhar memperoleh
ijazah kemursyidan Thariqah As-Syadziliyyah dari Syeikh Muhtarom
Al-Makki dan ijazah aurad Dalailil Khoirot dari Sayid Muhammad Amin
Al-Madani. Dimana kedua amaliyah ini dibelakang waktu menjadi bagian
amaliah rutin yang memasyhurkan.
Mbah Kyai Dalhar adalah seorang ulama yang senang melakukan
riyadhah. Sehingga pantas saja jika menurut riwayat shahih yang berasal
dari para ulama ahli hakikat sahabat sahabatnya, beliau adalah orang
yang amat akrab dengan nabiyullah Khidhr as. Sampai sampai ada putera
beliau yang diberi nama Khidr karena tafaullan dengan nabiyullah
tersebut. Sayang putera beliau ini yang cukup alim walau masih amat muda
dikehendaki kembali oleh Allah Swt ketika usianya belum menginjak
dewasa.
Selama di tanah suci, mbah Kyai Dalhar pernah melakukan
khalwat selama 3 tahun disuatu goa yang teramat sempit tempatnya. Dan
selama itu pula beliau melakukan puasa dengan berbuka hanya memakan 3
buah biji kurma saja serta meminum seteguk air zamzam secukupnya. Dari
bagian riyadhahnya, beliau juga pernah melakukan riyadhah khusus untuk
mendoakan para keturunan beliau serta para santri santrinya. Dalam hal
adab selama ditanah suci, mbah Kyai Dalhar tidak pernah buang air kecil
ataupun air besar di tanah Haram. Ketika merasa perlu untuk qadhil
hajat, beliau lari keluar tanah Haram.
Selain mengamalkan dzikir jahr ala thariqatis syadziliyyah,
mbah Kyai Dalhar juga senang melakukan dzikir sirr. Ketika sudah
tagharruq dengan dzikir sirrnya ini, mbah Kyai Dalhar dapat mencapai 3
hari 3 malam tak dapat diganggu oleh siapapun. Dalam hal thariqah
As-Syadziliyyah ini menurut kakek penulis KH Ahmad Abdul Haq, beliau
mbah Kyai Dalhar menurunkan ijazah kemursyidan hanya kepada 3 orang.
Yaitu, Kyai Iskandar, Salatiga ; KH Dimyathi, Banten ; dan kakek penulis
sendiri yaitu KH Ahmad Abdul Haq.
Sahrallayal (meninggalkan tidur
malam) adalah juga bagian dari riyadhah mbah Kyai Dalhar. Sampai dengan
sekarang, meninggalkan tidur malam ini menjadi bagian adat kebiasaan
yang berlaku bagi para putera putera di Watucongol.
Sumber : www.sufi.site
